Tante Pah dan Covid-19
Video

Tante Pah dan Covid-19

Seperti biasa dalam perjalanan kembali ke desa, saya akan berhenti di beberapa warung nasi lemak atau cendol di pinggir jalan. Toko yang paling populer adalah Mak Cik Pah yang sering dikunjungi pelanggan. Toko kecil, tapi enak dan murah. Namun sejak Perintah Pengendali Gerakan (PKP) diberlakukan, banyak warung dan pedagang kecil yang tutup, termasuk warung Mak Cik Pah. Apa pekerjaan mereka sekarang? Bagaimana pendapatan mereka setelah hampir tiga bulan tidak trading?

Sejauh yang saya tahu Bibi Pah dan toko-toko lain di sepanjang jalan telah dalam bisnis penuh waktu selama lebih dari 20 tahun. Namun, wabah Covid-19, pekerjaan dan mata pencaharian mereka terpengaruh. Siapa yang akan membantu mereka? Apakah pihak berwenang, terutama kementerian yang melibatkan pengusaha kecil dan menengah, membantu mereka memperkenalkan bisnis normal baru? Lalu menggelitik pikiran saya, apakah Tante Pah dan sejenisnya bisa berjualan online?

Rata-rata para pedagang ini kurang bersahabat dengan pendekatan online. Yang mereka tahu hanyalah menghitung untung dan rugi secara manual. Nasib mereka perlu dipertahankan. Masalah utama di daerah pedesaan adalah jangkauan internet yang rendah dan terkadang tidak ada sama sekali. Akankah pedagang pedesaan terus tertinggal dalam dilema normal baru? Sedangkan saat ini semuanya menggunakan pendekatan online. Baik dalam pelajaran, bisnis dan bekerja dari rumah. Namun, infrastrukturnya agak mengecewakan.

Jika Covid-19 tidak ada obatnya, mungkin normal baru akan berlanjut selama lima tahun ke depan. Artinya penyakit yang hadir di seluruh dunia ini telah mengubah paradigma berpikir dan menjadi modal sosial.

Modal sosial adalah perluasan penggunaan dan pembagian informasi melalui media sosial yang menyalurkan dan menyampaikan pesan dalam kelompok atau komunitas. Itu menjadi modal ide dan pemikiran baru yang akan digunakan orang untuk mencari nafkah. PKP diperkenalkan oleh pemerintah untuk menyelamatkan nyawa. Memang banyak sektor ekonomi yang terpengaruh. Apa yang diterapkan di Amerika Serikat misalnya, tanpa lockdown, tidak adanya sanksi akhirnya merenggut ratusan ribu nyawa. Bagi pemerintah negara, ekonomi perlu diselamatkan dan dilanjutkan. Meski demikian, hadirnya Covid-19 bukan berarti kita berdiam diri meratapi nasib tetapi kita perlu memikirkan dan menerapkan pendekatan baru sejalan dengan normal sekarang.

Prosedur

Perintah Pengendalian Gerakan Bersyarat (PKPB) menghela napas lega. Tidak hanya untuk pedagang kecil. New normal kini mulai menjadi hal yang lumrah. Namun, pedagang pedesaan seperti Mak Cik Pah masih mencari dan bingung untuk terus berjualan di warungnya. Suatu ketika Bibi Pah memulai kembali penjualannya, tetapi diperintahkan untuk tutup oleh otoritas setempat. Alasannya tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Bibi Pah sendiri tidak mengerti prosedurnya, jadi dia memutuskan untuk menutup usahanya.

Kementerian Desa (KLB) seharusnya tidak hanya membantu dalam hal bahan makanan mentah seperti beras, telur dan sarden, tetapi harus mendekati pedagang kecil untuk memasarkan dan menjual sesuai dengan normal baru.

KLB perlu memberikan ide dan motivasi baru, bukan kepada pedagang sampingan dan sampingan seperti Mak Cik Pah. Banyak juga yang menyarankan Tante Pah untuk berjualan dari rumah. Namun, Bibi Pah tidak memiliki modal dalam hal internet dan telepon canggih. Sebagai pedagang kecil yang hanya cukup makan, Bibi Pah mencoba memikirkan pekerjaan lain untuk menghidupi keenam anaknya yang masih kecil. Kisah Bibi Pah ini sebenarnya menjadi kenyataan saat ini. Faktanya, lebih banyak pedagang seperti dia yang terkena dampak dan kehilangan pekerjaan dek Covid-19 mereka.

Pemerintah negara bagian dan federal sebenarnya perlu duduk bersama untuk membahas dan memastikan nasib rakyat, terutama kelompok B40. Perlu ada mekanisme dan pendekatan agar setiap warga negara terus dibela. Jika bekerja di rumah, apa rumus dan caranya? Di saat-saat ‘darurat’ seperti ini, pemerintah, pemimpin, menteri, dan pemimpin negara harus tampil membantu rakyat yang menderita dan kehilangan mata pencaharian. Bekerja keras untuk menghidupkan kembali ekonomi dan membantu menghidupkan pedagang kecil sesuai dengan cetakan normal baru.

* Profesor Datuk Dr Ismail Sualman adalah Direktur Sekolah Studi Media dan Informasi, Fakultas Komunikasi dan Studi Media, Universiti Teknologi MARA

Posted By : result hk 2021